Rumah Sakit UMM & Masjid KH. Muhammad Bedjo Darmoleksono

2016
06.17

Rumah Sakit UMM

Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang mulai dibangun pada tahun 2009. Proses pembangunannya dilaksanakan setelah mendapatkan ijin mendirikan bangunan (IMB) dari Pemerintah Kabupaten Malang melalui unit pelayanan terpadu perizinan Nomor : 180/05989/IMB/421.302/2009. Pada bulan Oktober 2012 RS UMM mendapatkan izin Mendirikan Rumah Sakit dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dengan Nomor : 503.1/83/421.103/2012. Kemudian pada tanggal 20 Juni 2013 RS Universitas Muhammadiyah Malang mendapatkan Ijin Operasional Rumah Sakit Sementara dengan Nomor : 180/0006/IORS/421.302/2013.

IMG20160615125725

Rumah sakit Universitas Muhammadiyah Malang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2013 bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68. Rumah sakit ini merupakan sarana penunjang pendidikan dan merupakan salah satu profit center dari Universitas Muhammadiyah Malang. Lokasi rumah sakit tidak jauh dari Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang yaitu tepatnya di sebelah timur terminal Landungsari. Berdiri diatas tanah seluas 9 hektare dan memiliki bangunan utama setinggi 6 lantai dan beberapa bangunan gedung penunjang setinggi 5 lantai dan gedung rawat inap setinggi 3 lantai. Bentuk bangunan yang megah dan mewah dengan ciri khas arsitektur tiongkok, menjadikan RS Universitas Muhammadiyah Malang ini mudah dikenali.

Masjid KH. Muhammad Bedjo Darmoleksono

Hari ini menurut rencana Masjid yang berada di kompleks Rumah sakit Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang akan diresmikan oleh Ketua PP Muhammadiyah Bapak Prof. Dien, Masjid yang bergaya tiongkok ini diberi nama Masjid KH. Muhammad Bedjo DarmoLeksono. yang merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah Malang. Muhammad Bedjo lahir pada tanggal 22 Juli 1909/4Rajab 1327 H di Malang dari ayah Darmalaksana dan Ibu Sarirah. Beliau menikah dengan Shufinah dan hingga akhir hayatnya tidak dikaruniai anak kandung. Namun Bedjo mengangkat lima anak yang diasuhnya hingga dewasa. Selama Belajar di Wustho Muballighin, beliau di bimbing oleh KH Nur Yasin dan Syeh Ali Kudus.

Beliau mengaji kitab-kitab penting seperti Jurumiyah, TafsiIMG20160615125833r a-Jalalayn, Safinah, Asullam dan Taqrib. Setelah lulus beliau melanjutkan sekolah di Tabligh Schooll dibawah asuhan KH Badawi. disana, Bedjo mengaji Tafsir Al-Thabari, Jawahir al-Bukhari, Hidayatul Mursyidin, Mursyidul Amin, Miftahul Khitabah wal – Wa’adh dan Safinantun Najah. Sedangkan ilmu falak diperolehnya dari Siradj Dahlan. Bedjo aktif di Muhammadiyah sejak remaja menjadi anggota HW, sebagai guru Madrasah Diniyah Malang, dan ikut merintis Sekolah Menengah Islam yang akhirnya menjadi SMP Muhammadiyah. Pada awal pendirian Universitas Muhammadiyah Malang, Bedjo menjadi Pembina dan Pengawas serta aktif sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Malang, lalu dipercaya sebagai Konsul Muhammadiyah Daerah Malang dan Anggota Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur. Bedjo tidak hanya berdakwah melalui mimbar-mimbar masjid tetapi juga di sekolah, melalui siaran radio bahkan tulisan-tulisan kritis di media massa. Tulisan yang fenomenal berjudul “Tentang Islam Sentoloyo” di Suara Muhammadiyah sempat membuat majalah ini di bredel oleh Presiden Soekarno. Kepemimpinannya yang Kharismatis dibangun dari pengetahuan keislaman yang mendalam dan selalu memiliki argumentasi berdasarkan sumber-sumber yang otoritatif, Al-Quran dan Hadits hingga akhir hayatnya pada tahun 1986. (Sumber: Siapa & Siapa 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur, 2005)

 

Sumber : http://arbudh.blogspot.co.id/2011/06/masjid-k-h-muhammad-bedjo-darmoleksono.html

http://hospital.umm.ac.id/page/sejarah.html

 

Your Reply