Masjid AR-Fachrudin & SPBU UMM

2016
06.17

Masjid AR-Fachrudin UMM

Masjid ini teruji kekokohannya setelah mengalami beberapa kali guncangan gempa.

Masjid itu berdiri megah di atas hulu Sungai Brantas.Gemericik aliran airnya ter dengar dari dalam masjid.Sebuah suasana yang digam barkan para pengurus masjid seperti digambarkan dalam Surah al-Hijr ayat 45:Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).Seperti di dalam surga.

Sungai Brantas berada di belakang Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur, sedangkan di depannya Jalan Raya Tlogomas Malang, Jawa Timur. Posisi yang berdekatan dengan jalan raya ini membuat masjid ini mudah disinggahi.

Bangunan masjid yang menempati tanah seluas 6.000 meter persegi ini terdiri dari lima lantai. Tempat ibadahnya menempati lantai tiga dan empat. Sementara itu, lantai satu, dua, dan lima digunakan untuk berbagai kegiatan.

 

IMG_20160615_121155

 

Menurut H Syamsurizal Yazid, kepala Badan Pemakmuran Masjid (BPM) UMM yang didampingi sekretarisnya, Choirul Amin Setiadi, meskipun Masjid AR Fachruddin menempati lantai tiga dan empat, ketika berada di dalam cukup lapang. Sebab, lantai tiga, empat, dan lima tidak ditutup dengan lantai, tetapi bebas bangunan hingga kubah masjid.

Bangunan masjid kampus terbesar di Asia Tenggara ini ditopang dengan 81 tiang sehingga terlihat kokoh. Bahkan, bangunan ini dinyatakan sudah teruji kekokohannya dengan beberapa kali diguncang gempa. Di dalam masjid terhampar karpet merah yang berasal dari Arab Saudi. “Warna dan jenis karpet ini sama dengan yang ada di Masjid Madinah,” kata Syamsurizal kepada Republika di Kampus UMM Malang, Sabtu (19/7).

Semangat modernitas Kebudayaan Jawa, Arab, dan modern menyumbang pada penampilan arsitektur masjid UMM ini. Kehadiran cungku pada ujung setiap kubah adalah sumbangan dari kebudayaan Jawa. Ornamen dan pilar hadir dalam gaya modern.
Disebutkan, penampilan modern ini untuk menggambarkan semangat modernitas dalam ajaran Islam. Kehadiran pilar yang gagah perkasa itu enggambarkan bangunan tauhid. Kubah berikut ornamen buah dan daun melambangkan amal saleh.

Sementara itu, bagian pengimanan dihiasi dengan dan mimbar jati berukir dari Jepara Jawa Tengah dan arc atau semacam gapura melengkung. Arc merupakan pertanda keme nanga n atau tanda penaklukan atau lambang kejayaan.

Pada lengkung gapura tertulis ayat al-Mujaadillah ayat 11: yarfa’i allaahu alladziina aamanuu minkum waalladziina uutuu al’ilma darajaatin waallaahu bimaa ta’maluuna khabiirun. Artinya, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Filosofi dari kutipan ayat ini dimaksudkan agar keberadaan masjid di lingkungan akademik dapat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan. Masjid yang diresmikan BJ Habibie ini digunakan sebagai tempat menggali ilmu pengetahuan dan melestarikannya.

Sedangkan di dinding belakang gapura ditulis Surah at-Taubah ayat 18: innamaa ya’muru masaajida allaahi man aamana biallaahi waalyawmi al-aakhiri wa-aqaama alshshalaata waaataa alzzakaata walam yakhsya illaa allaaha fa’asaa ulaa-ika an yakuunuu mina almuhtadiina.

Artinya, hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang- orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jendela kecil Agar cahaya di dalam masjid mencukupi, dinding bagian atas di sebelah barat dipasang kaca berlukiskan lambang Muhammadiyah.

Sedangkan di bawah kubah yang berdiameter kurang lebih 25 meter juga ada banyak jendela kecil-kecil yang melingkari kubah. Dengan begitu, sirkulasi udara dan sinar ke dalam masjid cukup bagus.

Untuk menghubungkan satu lantai ke lantai yang lain, ada tangga yang cukup lebar. Tempat wudhu berada di lantai dua yang dilengkapi dengan 18 kamar mandi (10 kamar madi pria dan delapan kamar mandi wanita), dan keran wudhu 22 untuk pria dan 14 keran wanita.

Masjid yang bisa menampung kurang lebih 5.500 jamaah ini juga dilengkapi dengan menara setinggi 750 meter yang terletak di samping bangunan masjid. Menara ini berfungsi sebagai tempat pengeras suara dan antena Radio UMM FM.

Lantai lima, kata Syamsurizal, digunakan untuk pendidikan bahasa Arab dan Pondok Pe santren Abdul Rahman bin Auf. “Kita memi liki sekitar 400-500 santri yang berasal dari mahasiswa dan masyarakat sekitar,” katanya.

Lantai dua digunakan untuk pendidikan dan laboratorium bahasa Arab. Selain itu, juga digunakan untuk pelatihan Al Islam Ke mu hammadiyahan (AIK) bagi mahasiswa Uni versitas Muhammadiyah Malang. Semen tara, lantai satu digunakan untuk perkantoran perbankan, perpustakaan, poliklinik, lembaga bantuan hukum, markas dakwah, laboratorium kesejahteraan sosial, laboratorium hubungan in ternasional, dan Radio UMM FM.  

Intinya, Utamakan yang Wajib

Pembangunan Masjid AR Fachruddin ini, menurut Muhadjir Effendy, rektor Universitas Muhammadiyah, tidak lang sung jadi. Namun, secara bertahap dan memakan waktu kurang lebih lima tahun seiring dengan tersedianya dana yang dimiliki UMM.
“Masjid ini dibangun sebelum ada bangunan lain di Kampus III ini,” katanya kepada Republika di Malang, Sabtu (19/7).

Filosofinya, kata Muhadjir, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin, yang artinya sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan seluruh alam. Jadi, mengutamakan shalat, kemudian mengerjakan yang lain. “Apa yang kita lakukan semua ini untuk Allah SWT. Jadi, wajibnya kita dahulukan, baru mengerjakan sunahnya,” katanya.

Dalam membangun masjid ini tidak ada masterplan, tetapi dirancang sendiri, kemudian didesain bersama. Sedangkan, dana belum tersedia sehingga pembangunannya memakan waktu cukup lama.

Pemilihan lokasi masjid yang terletak di pinggir kali dan jalan raya dimaksudkan agar masjid ini tidak terkesan eksklusif milik kampus semata, tetapi masyarakat dapat ikut menggunakannya sebagai tempat ibadah.

“Memang lokasi masjid ini dinamakan zona publik. Sebab, di situ ada masjid, perbankan, poliklinik, konsultasi psikologi, ada tempat kursus bahasa Arab, perpustakaan,” katanya.Letaknya yang berada di pinggir jalan ini tidak mengganggu kegiatan akademik UMM.

Bahkan, di samping masjid sudah dibangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan sebentar lagi di antara masjid dan SPBU akan dibangun mal. Dengan demikian, zona publik ini akan semakin menyatu dan orang bisa one stop shopping, yaitu mengisi bahan bakar, belanja, dan melaksanakan shalat.

 

SPBU UMM (UMM Energy)

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berdiri sejak tahun 1964 telah mengalami perubahan cukup signifikan. Pada hari Sabtu, 27 Oktober 2012 diresmikan sebuah prasarana baru UMM. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) baru berdiri di sebelah Barat Masjid Ar-Fachrudin UMM, tepatnya di sebelah kiri pintu keluar Barat kampus III UMM.

IMG20160615121705Lokasi yang strategis  SPBU UMM memudahkan mahasiswa dalam membeli bahan bakar minyak. Selain itu, pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum UMM merupakan salah satu upaya UMM dalam mengembangkan usaha untuk mendukung  financial selain biaya pendidikan dari mahasiswa. Pendirian SPBU ini dilatarbelakangi jumlah mahasiswa, dosen, dan karyawan UMM sangat banyak  membutuhkan bahan bakar. Selain sebagai usaha, SPBU UMM merupakan salah satu bentuk layanan bagi civitas akademik dan masyarakat umum dalam hal kemudahan penyediaan bahan bakar.

 

Pembangunan yang direncanakan pada bulan April 2012 ini mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Seperti mahasiswa, dosen, dan karyawan UMM tidak perlu jauh-jauh untuk mengisi bahan bakar kendaraan. Stasiun Pengisian Bahan Bakar UMM dibangun berdasarkan standar PT. Pertamina. Desain bangunan disesuaikan dengan karakter lingkungan sekitar yang disesuaikan dengan bangunan di lingkungan. Penyediaan premium di SPBU UMM ini setiap hari dengan menyediakan 600 liter. Tetapi, untuk hari Senin, Jumat, dan Sabtu menyediakan 24-25 kiloliter. Tidak jarang pada hari Senin selalu kekurangan stock bahan bakar, karena pada hari Minggu pengiriman diliburkan. Tidak mudah diremehkan, pendirian SPBU ini telah mengeluarkan modal awal tidak sedikit. Menurut pengawas SPBU UMM yakni Ali Fitri Wardhani, modal kampus untuk mendirikan SPBU ini tidak mengeluarkan sedikit biaya, biaya untuk mendirikan SPBU ini ditanggung oleh biro keuangan kampus. Selama tiga tahun ini belum kembali modal, mungkin dua tahun lagi baru kembali modal, karena memang usaha ini termasuk jangka panjang.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar ini menyediakan beberapa jenis bahan bakar yang meliputi Biosolar, Premium, Pertamax, dan Pertamax +. Empat produk ini ditampung dalam tiga pulau pompa, dua untuk kendaraan besar dan satu untuk kendaraan sepeda motor. Stasiun Pengisian Bahan Bakar UMM menyediakan layanan tambahan. Misalnya, musholla, pompa angin, market, dan toilet umum. Stasiun Bahan Bakar UMM tidak melayani pembelian jurigen dikarenakan dari pihak PT. Pertamina tidak mengizinkan. SPBU didirikan untuk menunjang prasarana kampus ini dibuka 24 jam penuh. (bun/mee

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/14/08/03/n9qfcq-masjid-ar-fachruddin-umm-cermin-kampus-modern

http://cakrawalapostumm.blogspot.com/2015/12/satu-satunya-kampus-pemberi-fasilitas.html

 

 

Your Reply